Thursday, 24 August 2017

Seni Benjang, Tradisi Masyarakat Bandung ( Artikel Lengkap )

Selain Angklung, suku Sunda masih memiliki ragam budaya lainnya yang sangat menarik dan mempesona. Seni Sunda Benjang merupakan salah satu seni kebanggaan budaya Sunda. Seni Benjang ini terus dipertahankan keberadaannya hingga jaman modern seperti sekarang. Sebenarnya seperti apa Benjang tersebut atau Apa Itu Seni Sunda Benjang?

 Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga kini. Dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan ibingan (tarian) yang mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat.
Seperti umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu mempergunakan lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni benjang, lagu memegang peranan yang cukup penting dalam menampilkan seni benjang. Misalnya, pada lagu Rincik Manik dan Ela-Ela, pemain benjang akan melakukan gerakan yang disebut dogong, yaitu permainan saling mendorong antara du apemain benjang dengan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah lingkaran atau arena. Yang terseret ke luar garis lingkaran dalam dogong itu dinyatakan kalah.

Dari gerakan dogong tadi kemudian berkembanglah gerakan seredan, yaitu saling desak dan dorong seperti permainan sumo Jepang tanpa alat apa pun. Begitu pula aturannya, yang terdorong ke luar lingkaran dinyatakan kalah. Gerak seredan berkembang menjadi gerak adu mundur. Dalam gerakan ini yang dipergunakan adalah pundak masing-masing, jadi tidak mempergunakan tangan atau alat apa pun. Selain itu, ada pula yang disebut babagongan, yaitu gerakan atau ibingan para pemain yang mempertunjukkan gerakan mirip bagong (celeng atau **** hutan), dan dodombaan yaitu gerakan atau ibing mirip domba yang sedang berkelahi adu tanduk.

Peraturan untuk babagongan, dogong, seredan maupun adu mundur dan dodombaan adalah melarang pemain menggunakan tangan. Namun, karena seringnya terjadi pelanggaran, terutama oleh pemain yang terdesak, tangan pun tak terhindarkan sering turut sibuk, meraih dan mendorong. Oleh karena itu, dalam peraturan selanjutnya tangan boleh dipergunakan dan terciptalah permainan baru yang disebut genjang.
Benjang sebagai perkembangan dari permainan adu munding (kerbau), lebih mengarah pada permainan gulat. Di dalamnya terdapat gerakan piting (menghimpit) yang dilengkapi dengan gerak-gerak pencak silat. Apabila diperhatikan, bentuk dan gerakan seni genjang ini termasuk seni gulat tradisional.
Tidak ada peraturan khusus mengenai lawan atau pemain, baik berat badan, maupun tinggi rendahnya pemain serta syarat-syarat lainnya. Sebagai pertimbangan hanyalah keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan. Peraturan satu-satunya adalah apabila lawan tidak dapat membela diri dari himpitan lawannya dalam keadaan terlentang. Dalam keadaan demikian, maka pemain tersebut dinyatakan kalah. Selanjutnya permainan terus berjalan dengan silih berganti pasangan. Akhirnya, istilah genjang berubah menjadi benjang.

Baca Juga:

5 Alat Musik Tradisional Sumatera Barat Terlengkap


Waditra yang dipergunakan adalah: terebang, kendang, bedug, tarompet dan kecrek. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya: Kembang Beureum, Sorong Dayung, dan Renggong Gancang. Pertunjukan diselenggarakan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, dan lapangan. Pertunjukan dimulai pada malam hari pukul 20.00.
Dalam perkembangannya, pertunjukan benjang dilengkapi dengan kesenian lain seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, dan topeng benjang. Seni benjang kemudian melebar hingga ke Desa Cisaranten Wetan, Desa Cisaranten Kulon, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Majalaya, dan Kecamatan Cicadas, Kota Bandung.

Tokoh-tokoh pendiri dan pembaharu perkembangan seni benjang adalah Mama H. Hayat (alm) dan Abah Asrip (alm), keduanya dari Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung, kemudian Abah Alwasih (alm) dari Desa Ciporeat, Kampung Ciwaru, Kecamatan Ujungberung, lalu Mama H. Enjon (alm), seorang tokoh pencak silat yang melengkapi benjang dengan unsur-unsur pencak silat, dan terakhir Nunung Aspali, seorang tokoh yang masih hidup dan memimpin perkumpulan seni benjang “Putra Pajajaran” di Kecamatan Ujungberung.
Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.
Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

A.  Masa Pembentukan (1852-1910)
Tidak ada yang tahu secara pasti kapan seni benjang dilahirkan. Namun diperkirakan pada pertengahan abad ke 19 cikal bakal seni ini mulai ada, dan muai dikenal luas oleh masyarakat pada pertengahan tahun 1920-an.
 
Sebagai sebuah seni beladiri, benjang ini berkembang dari ilmu bela diri tradisional Indonesia secara umum. Pada pertengahan abad ke 19 pemerintah Hindia Belanda Melarang semua jenis ilmu beladiri, sehubungan dengan adanya kelompok pemuda yang menuntut kemerdekaan. Ilmu beladiri hanya boleh diberikan pada kalangan tertentu saja, yaitu Sekolah pegawai pemerintah, sekolah polisi, dan pegawai sipil.  Untuk mengatasi larangan tersebut akhirnya para pencinta ilmu beladiri secara sembunyi-sembunyi membentuk perkumpulan yang berkedokan olahraga dan kesenian lewat jalur agama. Sejak itulah muncul surau, pesantren, yang mengadakan latihan ilmu bela diri sebagai bagian untuk melatih fisik mental para santri. Cara ini mampu membangkitkan semngat pemuda dalam melawan penajjah.
Menurut Ajip Rosidi dalam Ensiklopedi seni sunda, mengungkapkan bahwa olahraga dan kesenian lewat jalur agama (islam) melahirkan seni Rudat. Seni Rudat ini kemudian berkembang menjadi kencring atau genjring, serta gedut. Seni gedut terbagi menjadi Ujungan yakni saling memukul dengan seutas rotan, Seredan yakni saling mendorong badan, dan gesekan yakni saling menggesekan badan. Seni gedut ini terkenal dibeberapa wilayah jawa barat termasuk di ujungberung yang lebih dikenal sebagai seni Terbangan.
Perubahan dari seni terbangan menjadi seni benjang tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan proses ini berlangsung pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Pada awalnya seni benjang dikembangkan oleh beberapa tokoh silat dan ujungan, dikembangkan dalam bentuk seni benjang gelut atau gulat. Kemudian seni benjang helaran dan topeng benjang dikembangkan oleh seniman ubrug dan doger.
 
 
 
Pada tahun 1852 Residen priangan menetapkan bahwa daerah priangan terbuka bagi siapa saja yang ingin menetap disana. Membaurnya para pendatang dengan penduduk asli kabupaten bandung menjadikan perubahan social dan budaya. Seni terbangan di masyarakat Bandung biasanya digunakan saat acara-acara keagamaan memperingati hari besar Islam. Kemudian berkembang tidak terbatas hanya pada lingkungan santri saja, seni terbangan ini kemudian sering digunakan pada acara syukuran panen, kelahiran bayi, bersih desa, dsb. Seni terbangan tidak hanya dimainkan di surau-surau saja, namun di tempat terbuka seperti pelataran rumah juga mulai memainkan seni tradisi terbangan. Bila dimainkan ditempat terbuka seperti ini biasanya pemain waditra berada di amben (bale-bale) sambil memainkan lagu pengiring. Beberapa orang memahami bahwa kata Benjang berasal dari kata “ben” dan “jang”. Ben kependekan dari kata amben, dan jang dari kata bujang (laki-laki) karena seni ini hanya dimainkan oleh para lelaki.  Sehingga dapat disimpulan bahwa semua permainan yang dilakukan di pelataran rumah dan diiringi oleh musik terbangan yang dimainkan di amben oleh para bujang/lelaki disebut BenjangPaham yang lebih sederhana mengatakan bahwa seni benjang ini berarti laki-laki karena hanya dimainkan oleh para lelaki. Saat itu waditra (alat musik) dasar seni benjang masih terbilang sederhana, berupa 2 buah gebrang (terbang dasar) dan satu buah kempring (terbang kecil). Itu merupakan bentuk transisi dari seni terbangan.
 
Seni terbangan sendiri berasal dari Majalaya, dimana urutan penyajian seni terbangan diawali dengan Nyuguh, Rajah yang terdiri dari 3 pupuh, dan hiburan yang terdiri dari tarian yang diiringi music terbangan. Pada pelaku seni buhun biasanya mereka menari dengan gerakan bebas hingga mereka memasuki fase trance atau kesurupan dan melakukan tarian-tarian pencak silat.
Lagu-lagu yang digunakan memiliki pola tabuhan yang berbeda-beda. Salah satu lagu yang sering digunakan saat mengiringi anak yang dikhitan pada pertunjukan seni benjang helaran adalah Rincik Manik. Lagu Rincik Manik banyak dihapalkan oleh pelaku seni terbangan, sementara para pelaku benjang jarang ada yang mengahaplny. Dengan demikian lagu Rincik Manik ini menandakan adanya pengaruh seni terbangan yang pernah ada di ujungberung terhadap perkembangan seni benjang saat ini. Waditra yang digunakan juga memiliki kesamaan yakni empat buah terbangan yang terdiri dari, satu buah tojo, dua buah Indung, satu buah keprang, dan satu buah dog-dog kecil. Kemudian dalam perkembangannya seni benjang ini menggunakan 3 buak kulanter dan alat musik modern seperti keybord, bass,dan melodis.
 
Seni Ubrug dan Doger merupakan awal mula perkembangan benjang helaran dan benjangtopeng. Kesenian ubrug termasuk jenis teater peran yang sudah punah. Kejayaan seni ubrug diteruskan oleh kelompok Mad Sya’ir yang kemudian membubarkan diri dan membentuk group benjang. Ke khasan group Benjang Mad Syai’r ini adalah semua pemainnya laki-laki. Peran wanita dimainkan oleh laki-laki yang berdandan seperti wanita. Dalam Ubrug lakon yang biasanya diperankan berbentuk lakon-lakon pendek yang disebut bobodoran. Bobodoran ini lebih mengutamakan tawa penonton. Dalam pertunjukan ubrug ini jalan cerita tidak terlalu penting, kondisi inilah yang kemudian melahirkan seni benjang topeng.
Pertnjukan dilakukan untuk memeriahkan berbagai hajatan, bila tidak ada penggilan biasanya meraka melakukan pertunjukan keliling dan mendapatkan uang saweran atau yang biasa disebut dengan ngamen.  Alat musik yang digunakan diantaranya adalah gendang, kulanter, terbang biang dan terompet.
Seni doger semacam seni ronggeng, seni doger di Ujungberug lebih mirip seni ubrug. Sementara seni ubrug di ujungberung lebih mirip ke bentuk pertunjukan tonil (sandiwara keliling).
 
B. Masa Kelahiran (1911-1930)
            Pada masa awal abad ke-20, bentuk seni bela diri sering dimainkan saat sesudah musim panen di sawah yang berlumpur. Bentuk seni ini disebut dogong/dogongan atau adu dogong. Dogongan adalah seni adu kekuatan tenaga yang dimainkan oleh dua orang lelaki dengan menggunakan halu(alu=alat penumbuk padi). Alat musiknya pun mengalami penambahan, berupa kendang (gendang) dantarompet (terompet). Jumlah terebangan bertambah menjadi empat buah. Pertunjukkan seni dogongan, seredan, pencak silat, dan pertunjukkan magis, seperti misalnya beberapa orang berusaha mengendalikan alu yang telah diberi kekuatan magis oleh sesepuh kelompok seni, atau beberapa orang melakukan gerakan-gerakan tarian.
            Di periode ini, tampak terjadi pengalihan tempat kegiatan dari areal persawahan atau perkebunan dan sekitarnya ke halaman rumah.
Natadiredja adalah seorang seniman sunda yang komplit, selain sebagai seniman tari dan karawitan ia juga mampu membuat berbagai waditra seni sunda. Karena itu pada zamannya ia terkenal aktif mengembangkan berbagai seni sunda yang hidup di Ujung Berung, seperti Wayang golek, Reog, Doger, Ubrug, Terebangan, hingga Benjang.
Natadiredja memiliki beberapa orang putera yang kelak meneruskan bakat seninya, diantaranya: Mad Ro’i, Surinta, Manta, Sahari. Pada pertengahan tahun 1920, Mad Ro’i bersama saudara-saudaranya diwarisi orangtuanya untuk memimpin kelompok Benjsng Ciharegem. Selain sebagai seniman Benjang, Manta mewarisi juga bakat ayahnya sebagai seorang perajin waditra seni sunda, khususnya waditraseni Benjang.
Aki Damiri adalah salah seorang narasumber yang tinggal di Kampung Cijambe.Aki Damiri adalah kakak dari Mama Aspali (alm), yaitu seorang tokoh seni bela diri Pencak Silat dan juga seorang tokoh seni bela diri Pencak Silat dan juga seorang tokoh Benjang Gulat akhir tahun 1920-an hingga akhir 1940-an.
Dari penuturannya dapat digali informasi tentang bentu seni bela diri Bjang dari kelompok Irtasan. Pada saat itu beliau hanya duduk di teras bersama kerabatnya menyaksikan pertujukan seni Benjang yang dimainkan di halamrumah keluarganya. Sedangkan masyrakat lainnya menonton memenuhi halaman rumah dengan membentuk lingkaran, dimana perunjukan Benjang berada di tengah-tengahnya.
Pada masa itu munculah nama-nama tokoh seni yang juga ikut berjasa dalam membentuk seni Benjang awal ini, diantaranya: Santari/Antari (Kampung Ciwaru) dan Mad Sari/Aki Sari (Kampung pasirbiru – Cibiru) tokoh seni Terebangan, Abdul Rochman (Ciporeat) tokoh seni Terebangan, Sartijem (Cigupakan) tokoh Ujungan dan Pencak Silat.
 
 
 
Pada perkembangan berikutnya menurut keterangan dari beberapa Sepuh Benjang Ciwaru, gerakan mendorong itu berubah ke bentuk saling merapatkan pundak, sehingga properti alu sudah tidak lagi. Digunakan lagi, Bentuk seni ini disebut Seredan. Bentuk seni Sredan ini tidak hanya dimainkan oleh dua orang tetapi terkadang dimainkan oleh empat orang dengan seorang “ pancer” (patok) di tengah peserta. Fungsi “pancer” selain sebagai pengatur jalannya permainan (wasit), juga sebagai tenaga penahan dari tenaga peserta Seredan yang mendorong dari empat arah yang berbeda. Seseorang dinyatakan kalah apabila kehabisan tenaga sehingga lemas atau terdesak ke luar arena permainan yang telah disepakati. Permaina Seredan berkembang ke bentuk gerak saling mendorong menggunakan kepala. Gerak ini disebut mumundingan/adu munding. Pada permainan ini, gerak mendorong dilakukan dengan cara membungkuk hingga merangkak, mendesak lawan dengan kepala. Gerak “mumundingan” terkadang masih digunakan pada permainan BenjangTradisional saat ini. Akhirnya, seni Terebangan-Silat sebagai seni Benjang awal ini telah berinteraksi dengan seni bela diri lainnya, maka Mas Soerjawikanta berusaha mengubah gerak seni bela diri ini agar bisa diterima lebih luas oleh masyrakat, khususnya masyarakat dari luar ataupun para pendatang yang menetap di Ujung Berung. Gerak saling mendorong diperluas menjadi gerak genyenyeng (mengambil dan membawa dengan paksa) dan pakenyang-kenyang (saling tarik menarik). Dari kata tersebut muncul versi akronim lain, yaitu Genyang atau Genjang yang lambat laun berubah menjadi Benjang.
Bentuk seni bela diri gulat tradisional ini mulai menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, ketika orang Belanda diundang untuk melihat kesenian ini, mereka spontan menamakannya Band Youngs Sundanis (grup musik pemuda sunda). Ben berasal dari kata Band atau grup musik (karena seni bela diri ini diiringi oleh sekelompok pemain musik tradisonal) dan Jang berasal dari kata Youngs (karena dimainkan hanya oleh para lelaki muda).


Search Populer:
  • kesenian tradisional jawa barat dalam bahasa sunda
  • kesenian sunda dalam bahasa sunda
  • makalah kesenian jawa barat
  • kebudayaan jawa barat lengkap
  • pengertian kesenian sunda
  • jenis jenis kesenian tradisional daerah jawa barat
  • karya seni rupa murni yang ada di daerah jawa barat
  • kesenian rengkong

Artikel Terkait