Sunday, 27 August 2017

Suku Batak Mandailing dari Sumatra Utara ( Artikel Lengkap )

Suku Batak Mandailing adalah salah satu suku dari sekian banyak Rumpun Batak yang telah lama hidup dalam suatu komunitas di kabupaten Mandailing-Natal, penyebaran juga terdapat di kabupaten Padang Lawas, kabupaten Padang Lawas Utara, dan sebagian kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing juga menyebar hingga ke wilayah provinsi Sumatra Barat, seperti di kabupaten Pasaman dan kabupaten Pasaman Barat.

pemukiman Mandailing
Suku Mandailing memiliki adat, budaya dan bahasa sendiri. Mereka berbicara dalam bahasa Mandailing. Bahasa Mandailing sendiri sangat berkerabat dengan bahasa Batak Angkola dan Batak Toba. Dilihat dari tradisi budaya, adat dan bahasa terdapat keterkaitan erat di masa lalu antara suku Batak Mandailing dengan suku Batak Angkola, Toba dan Padang Lawas. Selain itu mereka juga diperkirakan masih terkait hubungan di masa lalu dengan suku Batak Rokan dan suku Rao.

Menurut salah satu versi dikatakan bahwa kata "Mandailing" berasal dari kata "Mandahiling", yang berakar dari "Mandala" dan "Holing", yang diduga berawal dari suatu nama daerah di bawah kekuasaan sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga adalah sebuah kerajaan dari India yang pernah berdiri di wilayah ini, dan membentuk koloni sejak abad 12 dan diduga terjadi perkawinan dengan penduduk asli "batak" setempat, yang menurut perkiraan wilayah mereka berada di antara Portibi hingga Pidoli. 
 
Suku Mandailing ini berada di antara beberapa kebudayaan besar, yaitu budaya Batak Toba, Batak Angkola dan budaya Minangkabau. Pada suatu sisi suku Mandailing sebagai bagian dari rumpun Batak, tapi keberadaan mereka sempat diklaim berasal dari Minangkabau. Apabila dilihat dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing, bahwa suku Mandailing ini lebih berkerabat dengan suku Batak Toba dan Batak Angkola, dibanding dengan suku Minangkabau. Selain itu marga-marga yang ada pada suku Mandailing juga banyak yang sama dengan marga-marga pada suku Batak Toba dan Batak Angkola. Sedangkan dengan suku Minangkabau, sangat berbeda dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing sangatlah berbeda. Hanya karena pada suku Minangkabau terdapat salah satu suku/marga Mandaihiliang, oleh karena itu suku Minangkabau mengklaim bahwa Mandailing berasal dari salah satu marga/suku dari suku Minangkabau tersebut. Apabila dirunut ke masa lalu, orang Mandailing yang sejak dahulu sudah memiliki jiwa merantau, tersebar ke mana-mana seperti ke Malaysia, dan juga termasuk ke wilayah Minangkabau. Di wilayah Minangkabau mereka berbaur dengan suku setempat, melepas adat-istiadat aslinya, dan membentuk suatu komunitas yang disebut "mandailing" sesuai dengan nama tempat asal mereka "Tanah Mandailing". Oleh karena dialek orang Minangkabau yang susah menyebut "mandailing", maka komunitas merekapun terucap sebagai "Mandaihiliang". Jadi yang terjadi adalah sekelompok orang Mandailing bermigrasi ke Minangkabau, bukan sebaliknya. Perjalanan orang Mandailing di Minangkabau di masa lalu banyak terjadi di wilayah Pagarruyung di Minangkabau.

suku Mandailing
Suku Mandailing sendiri menganut paham kekerabatan patrilineal, tapi akhir-akhir ini ada yang menerapkan sistem matrilineal. Di Mandailing terdapat marga-marga, seperti: Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut dan lain-lain.
Marga-marga yang terdapat di Tanah Mandailing Godang, banyak memiliki pertalian dengan marga-marga dari Batak Utara (Batak Angkola dan Batak Toba). Tapi karena telah terpisah sejak berabad-abad, dan banyak terjadi missing link, maka marga-marga Mandailing saat ini telah berkembang menjadi beberapa aliran marga tersendiri.

Penduduk suku Batak Mandailing mayoritas adalah beragama Islam.  Berbeda dengan orang Batak Toba yang beragama Kristen. Tapi kedua suku bangsa ini berawal dari sejarah asal usul yang sama.

Banyak persamaan dalam kebiasaan orang Batak Mandailing dengan kebiasaan orang Batak Utara (Toba), misalnya:
  • ketika menyambut pengantin di rumah pengantin laki-laki. Masyarakat Mandailing selalu menyambutnya dengan ucapan horas...horas...horas
  • ketika bayi lahir, biasanya akan dibawa keluar rumah (dipatutoru), biasanya bakar kemenyan di luar rumah, agar bayi yang telah terlahir tidak mendapat gangguan roh halus.
  • adanya Gordang yang hampir bersamaan. (Gordang sambilan di tanah Mandailing Godang)
  • banyaknya persamaan nama gunung, nama desa dan nama sungai di tanah Batak Mandailing dan Batak Toba.
  • adanya acara mangupa-upa bila ada pesta perkawinan di tanah Mandailing
  • adanya tarian Tor-tor
  • adanya cara-cara menyiram sesuatu yang baru kita beli. Biasa diberi nama ipangir, agar terlepas dari marabahaya
  • adanya Ulos
  • adanya hata-hata yang bersamaan cara merangkai kalimatnya bila ada pesta ataupun pertemuan adat.
  • adanya istilah-istilah dalam hubungan kefamilian seperti anak boru, kahanggi, mora, harajaan, ula-ula dan lain-lain.
  • adanya tarombo (silsilah) yang membuktikan adanya hubungan urutan marga.

Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera,yang berasal dari huruf pallawa, bentuknya mirip dengan aksara Rencong. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak yang digunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Namun tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai Mandailing sebelum abad 19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang baik dan buruk serta ramalan mimpi.
 

Dalihan Na Tolu merupakan fondasi budaya Angkola-Sipirok, Padang Lawas dan Mandailing, yang saat ini lambat laun mengalami ancaman kepunahan.
Pada Dalihan Na Tolu terdapat 3 unsur, yaitu:
  1. Kahanggi, adalah kelompok yang mengayomi.
  2. Anak boru, adalah kelompok yang melaksanakan tugas.
  3. Mora, adalah kelompok yang dalam posisi penasehat.
Pada Dalihan Na Tolu terdapat 109 nilai, yang diperas menjadi 9 nilai budaya utama, yaitu:
  1. Kekerabatan, mencakup hubungan primordial, suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah dan perkawinan.
  2. Religi, mencakup kehidupan beragama.
  3. Hagabeon, mencakup banyak anak-cucu serta panjang umur.
  4. Hasangapon, kemuliaan, kewibawaan dan kharisma.
  5. Hamaraon, mencakup kekayaan yang banyak tapi halal.
  6. Hamajuon, mencakup kemajuan dalam menuntut ilmu pengetahuan.
  7. Hukum, mencakup “ptik dan uhum’’ dalam rangka menegakkan kebenaran.
  8. Pengayoman, nilainya lebih kecil dari 7 unsur lainnya, karena orang Angkola-Mandailing harus mandiri.
  9. Konflik, mencakup terjadi pertarungan kekuatan tentang masalah tanah dan warisan.

Search Populer:
  •  kesenian suku mandailing
  • orang mandailing kristen
  • pakaian adat suku mandailing
  • rumah adat suku mandailing
  • marga suku mandailing
  • suku mandailing minang
  • adat istiadat batak mandailing
  • suku angkola

Artikel Terkait