Thursday, 31 August 2017

Suku Togutil (Keturunan Portugis ) dari Halmahera

Tanah Maluku yang terkenal akan cengkeh dan pala menjadi incaran bangsa Eropa yang lalu berlomba-lomba datang untuk menguasainya.
Pada tahun 1546, Portugis mulai menyisir setiap pantai dan pulau yang ada di bumi Maluku Utara. Teluk Galela tidak ketinggalan. Tahun 1570 Sultan Khairun diracuni oleh Portugis saat sedang melangsungkan perundingan. Putranya, Sultan Babullah bersumpah untuk mengusir Portugis keluar dari benteng-benteng mereka dan secara gencar mengincar dan mengempur setiap kubu pertahanan portugis termasuk yang terdapat di Mamuya yang tidak tercatat dalam sejarah. 

Peristiwa ini banyak memakan korban di pihak Portugis. Bantuan kapal yang datang juga tidak lepas dari incaran. Salah satu kapal besar yang berlayar menyusuri kali Tiabo, pada waktu itu sebagian lembah Galela masih tergenang air, akhirnya karam di daerah Dokulamo yang berada pada posisi 3 Km dari kali Tiabo dan 9 km dari tepi pantai. Saksi mata sekaligus pemilik lahan, Alm. Yulianus Senyenyi, pernah berkisah bahwa ketika dirinya sedang mengolah lahannya dirinya menemukan bangkai kapal berukuran panjang 30 depa atau sekitar 45 meter dan lebar 9 depa (15 meter). 
 
Kapal Portugis tersebut masuk ke hulu Tiabo untuk menghindari pengejaran pasukan Korakora Sultan Ternate. Sayangnya mereka bernasib sial karena meskipun berhasil meluputkan diri namun pasukan Alifuru di pedalaman Galela telah menanti. Pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi.
Pada serangan pertama, pasukan Portugis dengan senjata apinya berhasil memakan banyak korban di pihak Alifuru. Serangan kedua pun dilakukan, namun kali ini tidak lagi menggunakan kekuatan fisik dan kontak senjata. Pasukan Alifuru menggunakan lebah sebagai kekuatan untuk melumpuhkan musuh. Serangan ini membuat pasukan Portugis yang berada baik di kapal maupun di darat menjadi kalang kabut ketika kawanan lebah datang dari berbagai arah untuk menyerang mereka. 
 
Sengatan lebah-lebah ini ternyata menimbulkan banyak korban di pihak Portugis. Upaya penyelamatan dilakukan dengan api dan belerang serta serangan balik dengan tembakan yang membabibuta, membuat pasukan Alifuru mundur dan menghindar dari peluru-peluru nyasar. Mundurnya pasukan Alifuru digunakan oleh Portugis untuk segera meninggalkan kapal dan daerah Dokulamo menuju arah selatan. Mereka bermukim di daerah Gunung Hum dan kemudian menamakan daerah tersebut Rum yang mengisyaratkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal orang-orang yang berasal dari Rumawi. 
Orang-orang Portugis di daerah Hum/Rum tidak dapat tinggal dengan tenang karena orang-orang Galela sering mengusik ketentraman mereka. Mereka pun kemudian memilih hijrah ke daerah Tobelo dengan menepati bebukitan Karianga arah selatan daerah Wangongira, Kusuri, lembah Kao, batang sungai kali Jodo menuju arah Tetewang. Perpindahan ini mempertemukan mereka dengan sesama bangsanya yang bernasib serupa di sekitar Pasir Putih yang kapalnya karam.

Sebagian dari mereka menetap dan menyatu dengan masyarakat setempat. Untuk menghilangkan jejak sebagai orang Portugis mereka belajar bahasa Tobelo. Mereka kemudian hidup bergaul dengan orang Tobelo dan Kao yang pada akhinya membuat kebanyakan orang Togutil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Tobelo Boeng dan Modole. Upaya-upaya ini dilakukan untuk menghindari kejaran pasukan Ternate dan Alifuru terhadap sisa-sisa orang Portugis di Maluku Utara yang lari ke hutan.
 
 
Pada perkembangannya, orang-orang Portugis ini kemudian hidup dengan cara berpindah-pindah ke daerah yang mereka anggap lebih aman sambil tetap berkembang biak. Populasi mereka diketahui menempati hutan di selatan Halmahera Utara sampai ke hutan Wasilei di Halmahera Timur.

Perawakan suku Togutil yang belum kawin campur adalah seperti orang Portugis pada umumnya. Mereka berperawakan tinggi besar, berkulit putih dan berhidung mancung. Pola hidup mereka masih sangat bergantung pada hasil alam. mereka hidup nomaden. Setelah persediaan berkurang mereka akan berpindah ke daerah baru.
Demikianlah sehingga mereka kemudian dikenal sebagai pemilik hutan Halmahera mengingat merekalah yang pertama menjelajahi dan menempati hutan Halmahera. 
Pola hidup suku Togutil yang sudah berbaur dengan masyarakat dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam bercocok tanam umbi-umbian dan buah-buahan serta tanaman tahunan sehingga hidupnya tidak lagi berpindah-pindah tempat.


Mereka juga sudah dapat menggunakan alat-alat pertanian dan berbusana dengan baik. Suku Togutil kini bukanlah suku terasing tapi lebih merupakan suku asli penghuni rimba Halmahera. Butuh perhatian, kepedulian dari berbagai pihak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup mereka layaknya masyarakat Halmahera lainnya. Hutan adalah istana hidup sedangkan pesisir pantai adalah petaka hidup bagi mereka yang disebut Togutil 
 
 

Search Populer:
  • ciri ciri suku togutil
  • asal usul suku togutil
  • pakaian adat suku togutil
  • kebudayaan suku togutil
  • rumah adat suku togutil
  • sistem pengetahuan suku togutil
  • kesenian suku togutil
  • makanan khas suku togutil

Artikel Terkait