Thursday, 24 August 2017

Tari Cakalele Tarian Daerah Maluku ( Artikel Lengkap )

Cakalele merupakan tarian jenis tari perang tradisional yang ada di Maluku. Ditampilkan untuk menyambut tamu ataupun dalam perayaan adat. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita. Tarian ini dilakukan secara berpasangan dengan iringan musik drum, flute, bia (sejenis musik tiup).

Pertujunkan tari biasa diwarnai dengan adegan mistis. Saat tari Cakalele ditampilkan, terkadang arwah nenek moyang marasuki para penari dan kehadiran arwah tersebut dapat dirasakan oleh penduduk asli.

Peralatan Tari
Para penari pria biasanya mengenakan parang dan salawaku (perisai) sedangkan penari wanita mengenakan pakaian putih dan menggunakan lenso (sapu tangan). Penari pria mengenakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta memakai penutup kepala aluminum yang disisipi dengan bulu putih. Kostum celana merah pada penari pria melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme rakyat Maluku. 
 

Makna Tari
Ada pendapat yang menyatakan bahwa tarian ini merupakan penghormatan atas nenek moyang bangsa Maluku yang merupakan pelaut. Sebelum mengarungi lautan untuk membajak kapal, nenek moyang mereka mengadakan pesta dengan makan, minum, dan berdansa. 

Pedang atau parang pada tangan kanan penari ini melambangkan martabat penduduk Maluku yang harus dijaga sampai mati. Sedangkan perisai dan teriakan keras para penari melambangkan gerakan protes melawan sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak pada rakyat.
 
 
Tarian adat
Cakalele merupakan tarian adat untuk memberikan semangat juang bagi para lelaki Maluku. Tarian ini diadakan sebagai rangkaian pesta adat sebelum para lelaki Maluku mengarungi lautan untuk pergi berperang atau mencari nafkah.
 
 Roh yang mengamuk
Saat tarian dilakukan, kadang ada penari yang kerasukan roh. Oleh sebab itu, tarian ini disebut cakalele. Cakalele dalam bahasa Ternate terdiri dua kata, caka artinya roh, dan lele artinya mengamuk. Sehingga cakalele berarti roh yang mengamuk.
Konon, dalam perang sesungguhnya, para penari yang sudah kerasukan roh akan berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata Aulee... Aulee... yang berarti banjir darah!

Kekayaan budaya Maluku
Pada zaman dahulu, cakalele merupakan tarian perang. Meski semua sudah dalam keadaan tenang dan damai, tarian perang cakalele tetap hidup menjadi kekayaan budaya bangsa Maluku.
Pak Klion Silulu, seorang penari cakalele di Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, menjelaskan bahwa sekarang tarian cakalele telah berkembang menjadi tiga macam. Yaitu, cakalele untuk menyambut tamu, cakalele untuk upacara adat, dan cakalele untuk berperang.
Namun pada kenyataannya, tarian cakalele untuk berperang tidak pernah dilakukan lagi. Itu karena, pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi perang.
 
 
 
Search Populer:
  •  tarian cakalele minahasa
  • tari saureka reka
  • properti tari cakalele
  • gerakan tari cakalele
  • tari cakalele sulawesi utara
  • video tari cakalele
  • tari katreji
  • cakalele jenis tarian dari daerah

Artikel Terkait