Sunday, 20 August 2017

Tari Kecak Asal Bali ( Artikel Lengkap )

Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack), adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.

Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya

Tari kecak sebetulnya berasal dari ritual pemujaan masyarakat Bali kuno terhadap Tuhan dan roh leluhur yang disebut ritual Sanghyang. Dalam ritual ini, para penari umumnya berada dalam kondisi tidak sadar dan dianggap mampu melakukan komunikasi dengan Tuhan untuk menyampaikan harapan-harapan dan keinginan rakyat.

1. Tema dan Makna Filosofi

Pada perkembangannya, tepatnya sekitar tahun 1930-an, seorang seniman Bali bernama Wayan Limbak dan seorang pelukis Jerman bernama Walter Spies melakukan perombakan dan modifikasi pada tari ritual Sanghyang dan menciptakan jenis tari kreasi baru yang bernama tari kecak.
Tari kecak atau tari Cak atau tari Api yang diciptakan Wayan Limbak dan Walter Spies ini merupakan sebuah tari pertunjukan berupa sendra tari (seni drama dan tari) yang mengkisahkan lakon pewayangan Ramayana. Fungsi awalnya sebagai tari persembahan untuk para dewa bergeser menjadi sarana hiburan yang menceritakan tentang perjuangan para kera yang membantu Sri Rama melawan Rahwana dalam merebut kembali Dewi Shinta.

Baca Juga:

Tari Kipas Pakarena Asal Sulawesi Selatan ( Artikel Lengkap )


2. Gerakan Tari Kecak

Sesuai dengan jenisnya yang merupakan sendra tari, gerakan tari kecak dibagi menjadi 4 adegan utama yang secara keseluruhan merupakan lakon kisah Ramayana, yaitu:
  1. Adegan pertama mengkisahkan Sinta ketika diculik oleh Rahwana saat Rama mengejar atau berburu kijang emas di hutan.
  2. Adegan kedua mengkisahkan seekor burung garuda yang berusaha menolong Dewi Sinta saat diculik Rahwana. Burung tersebut kemudian gagal menolong karena sayapnya putus setelah ditebas Rahwana. Rahwana pun berhasil membawa Dewi Shinta ke kerajaannya, Alengka Pura.
  3. Adegan ketiga mengkisahkan Rama dan Laksmana yang tersesat di tengah hutan dan tersadar bahwa Sintha telah diculik. Rama pun meminta Hanoman untuk menyelamatkan Shinta dengan memberikan cincinnya sebagai bukti bahwa ia adalah utusan Rama.
  4. Adegan keempat mengkisahkan Sinta yang tengah meratapi nasibnya di taman Alengka Pura. Hanoman yang muncul menyampaikan pesan pada Shinta agar tenang karena Rama akan menyelamatkannya. Hanoman sebelum pergi membakar dan mengobrak abrik Alengka. Pada adegan ini para penari menari di atas bara api yang menyala panas.

3. Iringan Tari

Tari kecak tidak diiringi dengan tetabuhan atau musik tertentu, melainkan hanya diiringi oleh suara “Cak..cak..cak!” yang diteriakan para penarinya secara bersama-sama. Bunyi gemerincing gelang kaki yang dihentakan setiap penari juga menambah riuh dan dinamisnya tarian ini. Meski tanpa tetabuhan, dua bunyi pengiring tersebut justru membuat pertunjukan tari ini semakin khas.
 

4. Setting Panggung

Tari kecak umumnya dimainkan oleh 50 sd 70 orang. Akan tetapi, jumlah pemainnya sendiri sebetulnya tidak ada batasan. Pernah pula pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali tarian ini dipentaskan oleh 5.000 orang penari pada secara bersamaan untuk memecahkan rekor MURI. Semua penari tari kecak disetting melingkar mengelilingi satu lakon yang tengah mendrama di bagian tengah lingkaran, mulai dari Rahwana, Dewi Shinta, Sri Rama, Hanoman, dan Laksmana.
 
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Secara umum penari tari kecak yang semuanya pria mengenakan kostum atau busana berupa bawahan celana hitam yang dilengkapi dengan selendang kotak-kotak hitam putih seperti warna papan catur. Mereka tidak menggunakan atasan alias hanya bertelanjang dada, tapi menggunakan gelang kaki yang dilengkapi dengan kerincingan yang akan berbunyi bila kaki mereka dihentakan.
Selain penari pada umumnya, terdapat lakon rahwana, hanoman, dewi Shinta, dan Sri Rama yang menggunakan kostum dan riasan menyerupai lakon-lakon tersebut.

6. Properti Tari

Sesuai namanya, Tari Cak atau Tari Api, tari kecak menggunakan salah satu properti yang berupa bara api. Bara api ini dilemparkan ke lantai pada penghujung tarian (adegan keempat) untuk kemudian diinjak-injak oleh semua penari sebagai salah satu sajian atraktif yang paling ditunggu-tunggu dari tarian ini.


Search Populer:
  • sejarah tari kecak
  • kostum tari kecak
  • fungsi tari kecak
  • gerakan tari kecak
  • video tari kecak
  • properti tari kecak
  • asal usul tari kecak
  • makna tari kecak

Artikel Terkait